You are here > Home SDM Plus - Edisi 124 April 2011 Laboratorium Produktivitas Provinsi Jatim
Sun 26 Oct 2014
Laboratorium Produktivitas Provinsi Jatim Cetak
Selasa, 10 Mei 2011 09:23

Untuk mendukung pelaksanaan Tahun Pencarian Kerja dan Pengurangan Pengangguran, sekaligus mengurangi angka kemiskinan di Jawa Timur diperlukan berbagai upaya, salah satu di antaranya adalah meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Selama ini, pemerintah melalui UPT P2TK sudah melakukan berbagai kegiatan pembinaan dan pelatihan produktivitas, dalam rangka meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Tujuan akhir peningkatan poduktivitas tenaga kerja adalah meningkatkan pendapatan, yang pada gilirannya akan mengurangi angka kemiskinan.

Menurut RPJM nasional yang dituangkan dalam Perperes No 5 tahun 2010, pertumbuhan ekonomi nasional ditargetkan 5,8 – 6,4 persen (tahun 2010) dan diharapkan menjadi 7,1 – 7,8 persen (tahun 2014). Sedangkan angka kemiskinan dari 14,62 – 14,24 persen (tahun 2010) menjadi 11,23 – 10,95 persen (tahun 2014). Sedangkan angka pengangguran dipatok hanya 3,7 – 3,4 persen pada tahun 2014.

Dengan target seperti itu, diperlukan kerja keras dari berbagai lembaga terkait, termasuk dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerja, yang diharapkan akan berkorelasi positif dengan produktivitas nasional. Upaya yang sudah dilakukan UPT P2TK dengan melakukan pelatihan dan pembinaan dirasakan perlu didukung dengan adanya Laboratorium Produktivitas Tenaga Kerja, sebagai unit pendukung dalam menemukan metode baru dalam mempercepat pembudayaan budaya kerja produktif, sehingga meningkatkan produktivitas nasional.

Perlunya Laboratorium Produktivitas Tenaga Kerja di Jawa Timur mengingat besarnya tantangan ke depan, dengan melihat realitas yang ada di masyarakat. Selama ini, budaya kerja yang efisien dan produktif belum sepenuhnya menjadi prinsip usaha, terutama usaha kecil dan menengah, karena keterbatasan pengetahuan, kesadaran berbudaya kerja, serta modal dalam menciptakan system kerja yang efisien.

Sebagaimana umum terjadi di negara berkembang, kondisi kehidupan yang kurang layak dari sisi kesehatan, pendidikan, perumahan dan sanitasi menyebabkan lingkungan dan system kerja pun kurang mendukung pencapaian budaya kerja yang baik. Padahal, dengan kondisi seperti itu, upaya meningkatkan produktivitas usaha sulit dicapai, sehingga akan berdampak pula pada rendahnya pendapatan masyarakat.

Secara umum, upaya peningkatan pendapatan riil di masyarakat Indonesia terhambat oleh kondisi sebagai berikut :

  1. Kuatnya posisi pedagang perantara yang didukung birokrat pedesaan yang juga turut menikmati sebagian keuntungan dari mekanisme pasar yang tidak memihak kepada petani.
  2. Umumnya pasar lokal, regional, dan ekspor sudah dikuasai oleh pedagang denan distribusi income yang semakin tidak adil bagi produsen di pedesaan.
  3. Bantuan yang benar-benar sampai kepada masyarakat yang menjadi target pemerintah relatif kecil.
  4. Hingga tahun 1997 tingkat pendidikan masih rendah, sehingga menyulitkan modernisasi dalam rangka mengifisienkan usaha pedesaan, sampai akhirnya tertolong oleh kemajuan tekonologi komunikasi, yang kini merambah ke pedesaan.

Untuk itu ada empat hal pokok yang perlu diperhatikan yakni mekanisme pasar, produsen, bantuan kepada masyarakat, dan meningkatkan teknologi dalam usaha rakyat. Usaha kecil perlu didorong untuk mamanage produk barang dan jasa dengan memberikan pelayanan untuk kepuasan pelanggan, melakukan strategi dan kecepatan dalam memasarkan produk dan jasa, dan melakukan inovasi untuk menguasai segmen pasar tersebut. (lihat gambar)

Sebagaimana ditegaskan oleh John Assaraf (2008) dalam Having It All (Rahasia Mencapai Impian) bahwa untuk menghasilkan lebih banyak uang, anda harus menjadi atau memiliki pemasar dan penjual yang ulung di dalam tim anda. Ini menegaskan pentingnya proses jual beli antara produsen dan konsumen sehingga tercapai keseimbangan supply and demand.

Dalam kacamata Prof Hidayat dalam Strategi Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja untuk Peningkatan Pertumbuhan Perekonomian Jawa Timur, dijelaskan pentingnya pemasaran dengan membangun logo, citra, promosi, kepercayaan, jatidiri, track record, realitas, reputasi, desain produk, dan warna produk yang dipasarkan. Dalam persaingan bisnis yang ketat, hanya ada dua pilihan yakni melakukan inovasi produk atau guling tikar (inovate or die). *

Oleh : Hari Ismana Jaya, UPT P2TK Surabaya

 

Menu Lain

Quick Link

 

Data Pengunjung

Kami punya 34 tamu online
DINAS TENAGA KERJA, TRANSMIGRASI DAN KEPENDUDUKAN
PROVINSI JAWA TIMUR
Jl. Dukuh Menanggal 124-126 - Surabaya
Telp./Fax. : 031-8284078, 8280254
E-Mail : disnakerprovjatim@yahoo.com
- Sebaiknya Menggunakan Browser Mozilla Firefox Dengan Resolusi 1280 x 1024 -